Subscribe Twitter FaceBook

Minggu, Agustus 29, 2010

Selamanya Cinta

Tiga tahun, dalam sebuah kisah bisa jadi rentang yang akan terasa cukup panjang bagi sebuah penantian tapi dikisah yang lain akan menjadi rentang yang sangat singkat bila harus diakhiri dengan perpisahan. Ukuran waktu kembali terlihat sebagai sesuatu yang relatif terhadap kondisi, sebuah tanya kemudian tersirat, apakah cinta yang membuatnya menjadi relatif? Penantian dan Perpisahan.

Seketika teringat dengan kisah seorang gay yang terbelenggu dalam kenangan-kenangan kisah cinta masa lalunya hingga membuat dia sulit sekali terlepas dan membebaskan diri dari kungkungan kesedihan setelah ditinggal oleh pasangan sejenisnya. Seakan telah mendapatkan kesempurnaan, pasangannya terdahulu adalah sosok impian yang menjadi dambaannya dalam kehidupan cinta. Tanpa dia sadari kisah itu membuat dia sama sekali tidak lagi mengenali kesejatiaanya, ironinya dia justru begitu kenal dengan sosok impian masa lalunya hingga memaksa dia untuk membuat standard-standard baru terhadap cinta masa depannya.

Tak ayal teman-teman tersayangnya tengah merasa kelelahan untuk membuka kembali mata hatinya dan membuka lembaran baru kemudian beralih ke fase cinta berikutnya. Sejatinya kita tidak pernah tahu lontaran kalimat mana yang mampu menyentuh hati seseorang dan mampu membuat orang tersebut merubah hidupnya kearah yang lebih baik. Hingga suatu ketika sebuah sentilan kecil mampu menyadarkan gay tersebut bahwa selama dia belum mampu mengenali jati dirinya, selama itu pula dia tidak akan pernah tahu apa yang dia cari.

Beberapa kali mencoba melangkahi hidup di jalur yang baru, beberapa kali pula dia gagal karena pijakan yang tidak cukup kuat untuk terhindar dari lintasan yang membuatnya terjatuh. Hal itu semata-mata karena tidak ada keyakinan yang kuat pada dirinya bahwa sebenarnya dia mampu melalui semua rintangan yang ada. Tiga tahun menjalani kesejatian cinta, tiga tahun pula menjalani penantian baru yang melelahkan. Menjadi sosok yang terabaikan adalah pelajaran baru yang sangat berharga baginya dalam proses membuka kembali pintu hatinya.

Bagaimanapun itu semua hanyalah masa lalu…

Sebuah titian masa baru menantang gagah dihadapannya, pilihannya cuma dua; menjadi pemenang atau selalu terbuang.

Sabtu, Agustus 14, 2010

Ramadhan menuju Tuhan

Terlahir dari keluarga yang memiliki wawasan keagamaan yang cukup terbatas membuat gw harus banyak belajar tentang makna keTuhanan, terlebih ketika akhirnya gw ketahui bahwa ternyata kedua orang tua gw tadinya memiliki keyakinan yang berbeda. Tapi itu semua tidak kemudian membuat gw harus menjadi makhluk tak berTuhan lantaran harus berusaha mencari kesejatian Tuhan diantara dua ajaran yang cukup berbeda, seperti yang pernah gw ketahui dalam sebuah quote, “Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda jika Dia hanya ingin disembah dengan satu cara?” cin(T)a.

Bagaimanapun juga, Tuhan adalah pencipta seluruh umat manusia, manusia hanya mengapresiasi bentuk penyembahan kepada Tuhan dengan cara yang berbeda-beda tetapi tetap dengan maksud yang sama yaitu berusaha menjadi hamba yang terbaik dimata Tuhan.

Dalam fase pencarian makna keTuhanan, gw sempat menuliskan barisan kata tentang Tuhan :

Tuhan, untuk apa aku hidup?

Untuk apa aku hidup?
Ibuku berkata, “untuk menyembah kepada Tuhan tentunya”
Tuhan yang mana? Terlalu banyak Tuhan di muka bumi ini hingga membuat ku kerap bertanya, Tuhan yang mana yang patut disembah

Aku kenal dengan Tuhan sudah sejak kecil, bukan perkenalan langsung tapi perkenalan perantara Ibuku

Ibuku berkata, “Tuhan ada dimana-mana, disetiap jiwa manusia, di hati kita semua”
Ibu ku berkata, “Tuhan bersemayam di atas kerajaan-Nya, Dialah Raja segala Raja”
Ibu ku berkata, “Tuhan lah pencipta seluruh umat manusia, Dialah pencipta semua makhluk, tanpa terkecuali”

Tapi kenapa manusia punya Tuhan yang berbeda-beda, tapi kenapa manusia beranggap hanya Tuhannya lah yang terhebat, tapi tidak dengan Tuhan yang lainnya

Mereka saling hina atas nama pembelaan Tuhan mereka, mereka saling bunuh atas nama pembelaan Tuhan mereka, mereka saling rebut kuasa padahal yang mereka rebut adalah punya Tuhan semata

Ibu, untuk apa aku hidup?
Ibuku berkata, “untuk menyembah kepada Tuhan tentunya”
Lalu aku bertanya, “Tuhan yang mana?”

Beliau hanya tersenyum kepada ku seraya berkata, ”Hanya ada satu Tuhan, pencipta seluruh makhluk, penguasa alam semesta, Dia hidup abadi, dan Dia menyayangi kita semua”

Ibu, apakah Tuhan punya agama? Ibu, apakah Tuhan memilih satu dari banyak agama di bumi? Ibu, apakah Tuhan juga yang membuat agama menjadi banyak? Ibu, apakah Tuhan akan menyelamatkan semua agama yang ada? Ibu, apakah Tuhan akan menyelamatkan kita semua?

Ibuku hanya terdiam seribu bahasa kemudian kembali tersenyum kepadaku. Beliau berkata, “hanya Tuhan yang mengetahui skenario itu, sayang. Tugas kita hanya menyembah-Nya, itu saja”

Ibu, aku takut menyembah Tuhan yang salah!
Ibuku berkata, ”Tidak satupun makhluk menyembah Tuhan yang salah, karena Dia satu”
Aku kemudian tersenyum karena aku yakin Tuhan akan senantiasa menuntun langkahku

 

Gw bersyukur terlahir sebagai makhluk berTuhan, berusaha untuk terus belajar dan menguasai diri dalam menjalankan ajaran agama yang semata-mata ditujukan secara ikhlas untuk menjadi hambaNya yang berbakti dan berserah diri. Dan sebagai seorang muslim, adalah sebuah kewajiban bagi gw untuk terus berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ramadhan adalah momen yang tepat bagi gw untuk kembali memanusiakan hidup gw, bagaimanapun kondisi gw, dengan segala lumuran dosa yang telah menghiasi hidup gw selama ini, gw hanyalah manusia yang sedang berusaha membersihkan diri agar kapan saja bisa siap untuk bertemu Allah SWT dalam keadaan suci.

Selamat memasuki bulan Ramadhan penuh berkah, mohon maaf atas segala khilaf agar dapat menjalankan Ibadah dibulan suci ini dengan hati yang bersih dan keluar sebagai makhluk terpilih layaknya terlahir kembali.

Selasa, Agustus 03, 2010

Ekspektasi dua sisi

Kadang gw berfikir dan bertanya dalam hati,
“apakah orang seperti gw masih patut merasakan indahnya cinta?”

Ketika mereka semua hanya bisa tertawa dikala gw masih saja berkutat dengan hal-hal yang tidak lagi penting menurut mereka disaat gw sebutkan sebaris kata yang menunjukkan panjang usia yang telah gw lalui sejak pertama kali marasakan hirup udara dunia. Ketika beberapa diantara mereka sedang berjaya menjalani laluan cerita tentang betapa bahagianya mereka menjalani hidup bersama orang yang mereka sayang. Silakan tertawa, bahkan jutaan kalimat bodoh tidak satupun yang mendapat ruang dihati gw.

No… No… tidak sekerat iripun menghinggapi otak gw, itu hidup mereka dan gw yakin mereka memang patut mendapatkannya atas usaha yang telah mereka perjuangkan. Hanya saja sebentuk dorongan rasa seketika menghentak kuat seakan ingin menghambur bebas dari tubuh gw, apa yang harusnya gw lakukan untuk bisa berlapang dada mengahadapi semuanya?

Disatu saat gw begitu terpukul ketika gw harus menerima kenyataan pahit bahwa lagi-lagi sebuah kondisi memaksa gw untuk terpuruk dan membeku disudut ruang dengan gejolak hati yang terabaikan, tapi disaat yang sama diruang yang berbeda diujung sana sesosok makhluk juga sedang mengalami hal yang sama dengan derai tak tertahan dan jutaan cacian yang tertuju pada gw.

Tanpa gw sadari, gw sedang mengabaikan disaat gw terabaikan, gw sedang menyiksa disaat gw sedang tersiksa, seseorang sedang meratapi nasibnya ketika gw dengan segala kesedihan juga meratapi nasib gw sebagai makhluk yang terbuang. Apakah ini yang harus gw terima ketika gw menafikan keinginan seseorang untuk masuk dalam kehidupan gw? Yang kemudian gw juga harus merasakan bagaimana perihnya ketika ingin yang gw punya dinafikan oleh orang yang gw cinta?

Untuk seseorang disudut sana, dengan segala harap aku menghaturkan ribuan maaf atas apa yang telah aku lakukan. Sungguh, sakit yang kamu rasakan sudah benar-benar terbalas dengan sempurna, aku patut mendapatkannya.

Jumat, Juli 30, 2010

Menutup satu fase

Setiap orang pasti memiliki fase hidupnya masing-masing, demikian halnya gw dengan fase hidup gw. Untuk itu gw akan terus berusaha menanamkan sebuah pemikiran dalam benak gw bahwa fase hidup gw bukanlah hal yang harus kemudian dilalui begitu saja tanpa ada pembelajaran baru untuk bisa terus gw pegang dalam melangkahi fase-fase berikutnya. Gw juga harus bisa terbiasa mengelola hati untuk mengahadapi segala kondisi bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. This is what gay suppose to be, right?

Dalam kondisi gw sebagai gay misalnya, ada fase ketika gw memulainya dari fase ketidaktahuan gw tentang apa itu gay, kemudian memasuki fase dimana gw merasa ada yang berbeda dalam diri gw dan dilanjutkan ke fase keingintahuan gw yang begitu kuat tentang apa itu gay sebenarnya, walaupun harus berkali-kali keluar masuk dalam fase denying-accepting-denying-accepting-dst hingga akhirnya menuju kesebuah fase yang menyadarkan gw bahwa penolakan bukanlah solusi untuk masalah ini.

Gw juga kemudian menyadari bahwa setiap fase tidak harus melulu ditutup dengan kebahagian, teringat dengan sebuah quote indah “Life doesn’t always turn out like what we want”. Jadi jangan terlampau bangga ketika berjaya, karena akan ada masa dimana kita merasa seakan seolah-olah dan sekonyong-konyong seperti tak bermakna difase lainnya, dan bagaimanapun kondisinya tetap harus ada pencerahan yang bisa terus dibawa untuk memasuki fase selanjutnya.

Bersyukur orang tua gw juga selalu mengingatkan untuk senantiasa berjauh diri dari tabiat membanding-bandingkan, karena seperti yang telah dituliskan diatas; setiap orang punya fasenya masing-masing yang belum tentu sama dengan fase yang kita punya. Terserah orang lain mau mendayu-dayu dalam menggambarkan hidupnya, terserah orang lain mau tertawa-tawa dalam mengisi kemenangannya, terserah orang lain mau menikmatinya dengan penuh irama, toh itu hidup mereka dan mereka berhak atas tiap hal yang harapannya mampu membawa kepada kebahagiaan mereka. Dan harapan yang sama tentunya patut gw perjuangkan, biarkan gw mewarnai hidup gw dengan cara gw sendiri :)

Ini sama sekali berbeda dengan sifat anti-sosial yah, untuk hal-hal tertentu yang sifatnya personal setiap orang punya hak untuk memberi batasan, ruang mana yang bisa dicampuri dan ruang mana yang untuk kalangan pribadi. Dan adakalanya kita juga bisa mengambil banyak pelajaran dari tiap fase yang telah dilalui oleh orang lain untuk kemudian diejawantahkan dalam kehidupan kita dengan beberapa improvisasi tentunya. Gw yakin salah satu tujuan terciptanya blog atau social media lainnya entah apalah namanya, agar bisa saling memberi pelajaran bagi siapa saja yang mau membaca.

Hidup [katanya] adalah sebuah fase besar dari beberapa fase yang harus dilalui oleh manusia yang melingkupi sekian banyak fase-fase yang kadang harus ditutup dan kadang juga harus dibuka sebagai lembaran baru. And me myself just only a human being that always trying to learn on how to make every phases yang gw lalui diisi dengan penuh semangat dan ditutup dengan kebahagian.

Intinya hidup memang hal yang serius tapi bisa dijalani dengan santai, jadi enjoy our lifes aja lah, seperti yang pernah diquote oleh ‘lelaki kecil’ gw [yang akan terus menjadi ‘lelaki kecil’ gw];

“Santay kaya di pantay, selow kaya di pulow”

Epilogue:
”I Love you pras, one thing that you really need to know, I will never let my love in the air, my dear”

FB Like for Lelaki Indonesia


vote for gay blogs at Best Male Blogs!
 

I am officially BACK

Posted by Sinting Maut

Hey there… I’m Back again… Oops… loh, kok pada biasa aja sih?? hahaha, iya iya gw sadar emangnya siapa gw yang sekonyong-konyong menghilang tanpa kabar meninggalkan sejuta tanya hingga menimbulkan banyak persepsi negatif bahkan kemungkinan terburuk dibilang sok mensucikan diri, lari dari kenyataan, dan masih banyak lagi yang lainnya kemudian sekonyong-konyong pula hadir kembali mengharapkan sambutan meriah…. huhuhu, situ arteees… wkwkwkwk :)

One Night Stand to Love

Posted by Sinting Maut

I’m just a person who not into a one night stand guy. Tapi kadang suka kepikir aja, kira-kira apa yang biasa dilakukan oleh seseorang yang suka banget sama perjalanan hidup one night stand (ONS)? Gw sebenernya ngga terlalu ambil pusing sama kehidupan orang lain utamanya gay, terserah dia mau one night stand, money oriented, love oriented, or other kind of ‘sucks’ oriented things. ‘Cos I know that they must be have their own reasons to pace their life, and me myself also.

Cintaku hilang

Posted by Sinting Maut

Pikiran ini seperti buntu tak melaju Imajinasi yang aku punya seakan berlalu Entah kemana ia melayang kemudian hilang Yang aku tau jalan hidupku menjadi semakin tak menentu Tanpa kamu di hatiku Dan syair itupun mengiringi langkahku untuk mengingatmu :

I’m a Homo, I’m a Janda, forever? don’t know

Posted by Sinting Maut

Ngga gampang loh jadi homo janda kaya gw… *situ siapah?? hahaha Whatever, gw memang bukan public figure, gw juga bukan orang terkenal apalagi sampe dikenal sama homo-homo sejagad raya, tapi yang jelas I’m a Homo, I’m a queer, I’m a Janda, and will it lasting forever? I don’t know…

Rama & Julian

Posted by Sinting Maut

Bagi mereka, Cinta ini mungkin terlarang untuk kita Tapi justru cinta ini yang membuat kita semakin kuat setiap harinya Hari ini, besok, dan seterusnya