Tiga tahun, dalam sebuah kisah bisa jadi rentang yang akan terasa cukup panjang bagi sebuah penantian tapi dikisah yang lain akan menjadi rentang yang sangat singkat bila harus diakhiri dengan perpisahan. Ukuran waktu kembali terlihat sebagai sesuatu yang relatif terhadap kondisi, sebuah tanya kemudian tersirat, apakah cinta yang membuatnya menjadi relatif? Penantian dan Perpisahan.
Seketika teringat dengan kisah seorang gay yang terbelenggu dalam kenangan-kenangan kisah cinta masa lalunya hingga membuat dia sulit sekali terlepas dan membebaskan diri dari kungkungan kesedihan setelah ditinggal oleh pasangan sejenisnya. Seakan telah mendapatkan kesempurnaan, pasangannya terdahulu adalah sosok impian yang menjadi dambaannya dalam kehidupan cinta. Tanpa dia sadari kisah itu membuat dia sama sekali tidak lagi mengenali kesejatiaanya, ironinya dia justru begitu kenal dengan sosok impian masa lalunya hingga memaksa dia untuk membuat standard-standard baru terhadap cinta masa depannya.
Tak ayal teman-teman tersayangnya tengah merasa kelelahan untuk membuka kembali mata hatinya dan membuka lembaran baru kemudian beralih ke fase cinta berikutnya. Sejatinya kita tidak pernah tahu lontaran kalimat mana yang mampu menyentuh hati seseorang dan mampu membuat orang tersebut merubah hidupnya kearah yang lebih baik. Hingga suatu ketika sebuah sentilan kecil mampu menyadarkan gay tersebut bahwa selama dia belum mampu mengenali jati dirinya, selama itu pula dia tidak akan pernah tahu apa yang dia cari.
Beberapa kali mencoba melangkahi hidup di jalur yang baru, beberapa kali pula dia gagal karena pijakan yang tidak cukup kuat untuk terhindar dari lintasan yang membuatnya terjatuh. Hal itu semata-mata karena tidak ada keyakinan yang kuat pada dirinya bahwa sebenarnya dia mampu melalui semua rintangan yang ada. Tiga tahun menjalani kesejatian cinta, tiga tahun pula menjalani penantian baru yang melelahkan. Menjadi sosok yang terabaikan adalah pelajaran baru yang sangat berharga baginya dalam proses membuka kembali pintu hatinya.
Bagaimanapun itu semua hanyalah masa lalu…
Sebuah titian masa baru menantang gagah dihadapannya, pilihannya cuma dua; menjadi pemenang atau selalu terbuang.
Terlahir dari keluarga yang memiliki wawasan keagamaan yang cukup terbatas membuat gw harus banyak belajar tentang makna keTuhanan, terlebih ketika akhirnya gw ketahui bahwa ternyata kedua orang tua gw tadinya memiliki keyakinan yang berbeda. Tapi itu semua tidak kemudian membuat gw harus menjadi makhluk tak berTuhan lantaran harus berusaha mencari kesejatian Tuhan diantara dua ajaran yang cukup berbeda, seperti yang pernah gw ketahui dalam sebuah quote, “Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda jika Dia hanya ingin disembah dengan satu cara?” cin(T)a.
Ketika mereka semua hanya bisa tertawa dikala gw masih saja berkutat dengan hal-hal yang tidak lagi penting menurut mereka disaat gw sebutkan sebaris kata yang menunjukkan panjang usia yang telah gw lalui sejak pertama kali marasakan hirup udara dunia. Ketika beberapa diantara mereka sedang berjaya menjalani laluan cerita tentang betapa bahagianya mereka menjalani hidup bersama orang yang mereka sayang. Silakan tertawa, bahkan jutaan kalimat bodoh tidak satupun yang mendapat ruang dihati gw.
Setiap orang pasti memiliki fase hidupnya masing-masing, demikian halnya gw dengan fase hidup gw. Untuk itu gw akan terus berusaha menanamkan sebuah pemikiran dalam benak gw bahwa fase hidup gw bukanlah hal yang harus kemudian dilalui begitu saja tanpa ada pembelajaran baru untuk bisa terus gw pegang dalam melangkahi fase-fase berikutnya. Gw juga harus bisa terbiasa mengelola hati untuk mengahadapi segala kondisi bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. This is what gay suppose to be, right?





